Ternyata ini 2 Alasan Menkop UKM Takut Aplikasi Baru Asal Cina Lebih ‘Kejam’ dari TikTok Masuk Indonesia

- 14 Juni 2024, 06:36 WIB
Aplikasi Temu. Aplikasi ini dinilai lebih bahaya dari TikTok Shop
Aplikasi Temu. Aplikasi ini dinilai lebih bahaya dari TikTok Shop /Tangkap Layar Google Play Aplikasi Temu/

PRFMNEWS - Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki khawatir akan hadirnya aplikasi e-commerce atau lokapasar baru asal China yang mengancam pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) jika masuk ke Indonesia. Menurutnya aplikasi belanja online ini berpotensi lebih ‘mematikan’ dibanding TikTok Shop.

Menteri Teten mengatakan nama aplikasi belanja online baru asal China yang menjadi pesaing layanan TikTok Shop dan dikhawatirkan jika masuk Indonesia akan mengancam pelaku UMKM atau pedagang produk-produk lokal tanah air adalah ‘Temu’. Sejauh ini, aplikasi Temu sudah bisa di-download dan digunakan baru di beberapa negara saja.

Alasan kenapa aplikasi Temu lebih berbahaya dan mengancam pelaku UMKM Indonesia dibandingkan TikTop Shop, ungkap Teten, karena platform digital e-commerce baru pesaing TikTok Shop ini akan bisa menghubungkan langsung antara pabrik di Tiongkok ke konsumen di Indonesia atau disebut mekanisme factory direct.

Baca Juga: Penampakan Sapi yang Dibeli Jokowi dari Bandung untuk Kurban Tahun Ini

"Ini yang saya khawatir, ada satu lagi aplikasi digital cross-border yang saya kira akan masuk ke kita, dan lebih dahsyat daripada TikTok, karena ini menghubungkan factory direct kepada konsumen," ujar Teten di Jakarta, Senin 10 Juni 2024, dikutip dari ANTARA.

Oleh karena itu, paparnya, Temu dapat lebih mengancam pelaku UMKM yang hanya mampu berproduksi secara kecil-kecilan. Sementara pabrikan China, mampu menghasilkan produk secara massal dan ketika dapat dibeli langsung oleh konsumen maka harganya bisa jauh lebih murah.

Alasan lain Temu dianggap lebih berbahaya dari TikTok Shop, lanjut dia, karena aplikasi tersebut tidak memiliki reseller dan afiliator. Berbeda dengan TikTok Shop yang masih membuka lapangan pekerjaan menjadi reseller dan affiliator dari suatu brand produk, tanpa langsung terhubung dengan pihak pabrik.

"Kalau TikTok masih mending lah, masih ada reseller, ada afiliator, masih membuka lapangan kerja. Kalau ini kan akan memangkas langsung, selain harganya lebih murah, juga memangkas lapangan kerja misalnya distribusi," jelasnya.

Baca Juga: Pemerintah Beri Peringatan ke Tiktok Soal TikTok Shop Agar Segera Patuhi Aturan

Aplikasi Temu, imbuhnya, sejauh ini sudah masuk dan dapat di-download oleh masyarakat di 58 negara. Namun ia tidak merincikan negara-negara mana saja yang sudah bisa mengakses layanan aplikasi e-commerce baru asal China tersebut.

Lebih lanjut, Teten mengungkapkan aplikasi Temu terhubung dengan 80 pabrik di China. Melalui layanan Temu, produk-produk dari pabrik di China ini bisa langsung dibeli dan diterima oleh seluruh konsumen di dunia.

Teten berharap, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 31 Tahun 2023 tentang perizinan berusaha, periklanan, pembinaan, dan pengawasan pelaku usaha dalam perdagangan melalui sistem elektronik dapat mengantisipasi masuknya aplikasi Temu.

"Tapi memang meskipun kita kan sudah punya aturan di Permendag 31/2023, itu tidak boleh cross-border jual produk di bawah 100 dolar AS, saya hanya hanya warning saja karena keadaan ekonomi UMKM saat ini indeks bisnisnya sedang turun," tuturnya.***

Editor: Rifki Abdul Fahmi

Sumber: ANTARA


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah