Peneliti Hoaks Beberkan Karakteristik Penyebaran Hoaks: Jaga Eksitensi dan Percaya Konspirasi

- 22 Juli 2020, 19:53 WIB
Ilustrasi hoaks. /Dok Pikiran Rakyat.



PRFNEWS
– Peneliti Kabar Bohong (hoaks) dari Universitas Padjajaran (Unpad), Kunto Adi Wibowo menyebut penyebaran hoaks memiliki berbagai karakteristik.

Menurut Kunto, salah satu karakteristik yang paling membuat orang ikut menyebarkan hoaks adalah menjaga eksitensi diri di suatu komunitas. Akibatnya, orang yang bersikukuh menjaga eksistensi diri ini paling berperan dalam penyebaran hoaks secara masif.

“Ada persepsi bahwa dirinya adalah opinion leader atau orang yang paling didengarkan di dalam sebuah komunitas. Sehingga dia merasa perlu menyebarkan informasi yang menurut dia baru, dan dirasa bahwa orang dalam komunitasnya harus tahu tentang informasi terbaru tersebut,” ucapnya saat On Air di Radio PRFM 107.5 News Channel, Rabu (22/7/2020).

Baca Juga: Cegah Aksi Calo dan Pungli, Disdukcapil KBB Imbau Masyarakat Gunakan ‘Sidilan’

Lebih lanjut, orang-orang yang mempercayai teori konspirasi merupakan kalangan yang paling mudah diperdaya hoaks.

Dikatakan Kunto, orang yang percaya konspirasi selalu ingin mengetahui dan memastikan sesuatu secara cepat. Kalangan ini juga tidak ingin bahkan tidak percaya sumber lain, selain sumber informasi yang mereka percayai.

“Ketika orang merasa mendapat informasi yang bisa memastikan sesuatu, maka dia akan menyebarkan informasi tersebut. Covid-19 mengancam rasa aman. Untuk mejaga rasa aman, seseorang kadang-kadang lebih pecaya dengan informasi-informasi yang sebenarnya belum tentu benar,” imbuh Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Unpad tersebut.

Baca Juga: Update Kasus Covid-19 di Indonesia, Rabu 22 Juli 2020

Selain itu, mayoritas konten hoaks dibuat untuk memancing emosi penerima informasi. Dengan memancing emosi penerima informasi,  sebuah hoaks akan lebih mudah menerima dan mempercayai hoaks.

“Biasanya informasi hoaks yang disebar itu sifatnya emosional. Karena dengan emosi, kita jadi tidak menggunakan perangkat kita (otak) untuk berpikir secara logis. Akhirnya kita lebih mudah oleh informasi tersebut,” tambah Kunto.***

Halaman:

Editor: Rifki


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X